"Mahar gadis aceh memang kelewatan." Begitu katanya dengan kesal, membubuhi emoticon marah sebagai penegas kemarahannya. Lalu mulailah berbagai analisis disampaikan tentang betapa indahnya gaya hidup ala eropa, tempatnya menimba ilmu untuk gelar S2-nya. Atau betapa sangat efisiennya gaya pernikahan di amerika yang tidak ribet dengan pesta adat ini itu, dan diatas semuanya, mahar yg tidak merepotkan.
Diskusi tak ilmiah tadi malam dengan seorang teman kembali berujung pada cela dan protes. Awal masalahnya sederhana, ia menilai mahar yang ditetapkan keluarga gadis pujaan hatinya terlalu mahal.
Chat ditutup. Dan saya mulai berpikir. Mengingat info tentang berbagai prosedur administratif dalam proses pernikahan ala eropa atau amerika. Yang mensyaratkan pengujian kesehatan, konseling sebelum pernikahan, dan berbagai tindakan administratif lainnya. Juga mencoba menghitung harga biaya pernikahan disana, plus hal-hal seperti harga sepasang cincin.
Karena saya tidak hidup di eropa atau amerika, tentu saja info yang saya miliki bisa jadi sudah usang. Tapi sepertinya, tidak lebih murah dibandingkan pernikahan di Aceh.
Saya teringat tulisan yang saya kirim untuk sebuah media (belum terbit edisi yg dimaksud). Tulisan yang bersumber dari survey iseng saya pada beberapa rekan dan beberapa orang tua.
Hal yang menarik. Antara lain :
1. Tidak ada satupun yang mencela soal mahar itu, berani terang-terangan memprotes pada calon mertua, soal besaran mahar. Rata-rata ngomel dibelakang.
2. Hanya mereka yang tidak mempersiapkan sejak awal, yang sibuk mencela soal mahar atau adat. Sedangkan bagi mereka yang sejak jauh sebelum menemukan tambatan hatinya sudah menabung mempersiapkan, soal mahar dan adat ini ternyata bisa dinegosiasikan.
3. Ternyata besaran mahar dipengaruhi oleh perasaan orang tua terhadap calon menantunya. Karena sebagian besar orang tua teman yg saya ajak bicara, secara terbuka menyebutkan, bahwa sering mereka menetapkan mahar yg besar sebagai penolakan.
Ada pernyataan bapak seorang teman, cukup menarik untuk dikutip. "Seandainya mau menghitung berapa banyak uang yang dihabiskan untuk rokok, pulsa dan nongkrong, tentu soal mahar itu tak akan berani dicela. Jutaan uang rela dibuang dibakar, sedangkan jutaan untuk modal masa depan dicela. Kalau seorang laki-laki bersungguh-sungguh meniatkan ia akan menikahi seorang gadis baik dan memiliki kualitas baik, buankah wajar bila sejak lama dia mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan."
Saya jadi iseng menghitung berapa yang dihabiskan untuk rokok kelas mild per tahun. Dengan asumsi rata-rata teman saya yang perokok menghabiskan sebungkus rokok type mild per hari.
Harga sebungkusnya kita anggap Rp.12.000. Maka sebulannya sekitar Rp. 360.000. Jadi nilai total per tahunnya sekitar rp.4.320.000.
Cek perkiraan harga satu mayam emas hari ini, sekitar Rp. 1.700.000. jadi dengan perhitungan kasar, tambah sedikit dari penghematan uang pulsa, seorang perokok, sebenarnya mampu meyiapkan 3 mayam pertahun.
Ternyata lumayan logis perhitungan si bapak.
Ditambah lagi, sebenarnya mahar juga menjadi dana cadangan yang cukup berguna bagi pasangan baru itu. Itu juga saya rasa alasannya mengapa emas yang dijadikan standar mahar di Aceh. Karena local wisdom yang menyadari emas juga adalah perhiasan dengan nilai jual yang stabil, cenderung meningkat, dan bisa cepat diuangkan.
Ah, ada banyak hal menarik ketika membicarakan mahar. Tapi satu hal yang pasti, kadang kita hanya melihat satu hal dari satu sudut saja, seperti adat budaya kita, yang sering kita cela, tak jarang karena kita tak mau tahu dan tak mau mencoba memahami makna yang ada di dalamnya.
about me


Mix Theme
I am a full time stay at home father | part time graphic designer | sometime blogger | writer wanna be | noodleholic & coffee lover
and I love this quote :
“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.”
― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky
Powered by Blogger.
Featured Post
Apa salahnya kalau berbikini di Aceh
Apa salahnya kalau berbikini di Aceh . Kalimat yang menjadi awal obrolan sederhana antara saya dengan Kim. Setelah sempat bercakap-cakap...

Time Traveler Visit Counter
Search This Blog
-
Sebenarnya paling malas menulis hal-hal begini. Rasanya seperti menjadi bagian dari infotainment yang membahas hal-hal tidak penting, s...
-
Apa salahnya kalau berbikini di Aceh . Kalimat yang menjadi awal obrolan sederhana antara saya dengan Kim. Setelah sempat bercakap-cakap...
-
Tahun 2013 saya resmi memutuskan diri berhenti dari aktivitas sebagai trainer. Bukan hal luar biasa, secara saya memang belum sekelas Mario...
-
Aku mestilah bukan yang pertama merespon ceramah Ust. Khalid Basalamah. Bukan semua ceramahnya. Tak lain dan tak bukan adalah ceramah ...
-
Fa Design . Dipostingan sebelumnya, Cara Mudah Membuat Watermark , yang juga merupakan tutorial pertama di blog saya. Saya mencoba berb...
yudi, dulu, maharnya lumayan gede. itu di tetapkan karena katanya, kakak calon istri yudi juga sama. :D
ReplyDeleteah you what i means :D
Sabar yud ya, biasanya yg pertama emang mahal, tapi yang selanjutnya doakan saja lebih murah
Delete#gagalpaham
Jika memang sang wanita itu memang pantas didapat dan dimiliki dengan mahar yang tinggi, ya sah-sah saja! Jadi coba dilihat dulu siapa sang wanita itu sebenarnyA! TERUTAMA DARI AHKHLAK DAN BUDI PEKERTINYA BUKAN DARI HARTANYA.
ReplyDeleteMehai jelame ka mangat bak taeh, jelame 15 manyan, keaso kama 10 manyam, yg tinggai ke dara baro cma 5 manyam,artinya cm 7 jt. Pakon gabuk? Sedangkan hnda ninja 64 jta hana gabuk. By: fakhrul rozi
ReplyDelete